Penelitian Sebut Anak-Anak Sering Di-Bully Karena Tak Punya Skin In-Game

Penelitian Sebut Anak-Anak Sering Di-Bully Karena Tak Punya Skin In-Game

Berbeda dengan banyak generasi kita dimana internet baru menemukan jalannya untuk masuk sebagai pondasi hidup manusia modern, anak-anak yang lahir di generasi saat ini memang sudah menyerapnya sebagai bagian yang tidak tergantikan. Di situasi seperti ini pulalah, kita juga tak sulit melihat bagaimana anak-anak kini juga berujung mengadaptasikan video game, terutama yang berstatus free to play, sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Siapa yang mengira bahwa situasi yang satu ini ternyata bisa berujung menjadi alasan aksi bullying baru yang didasarkan pada satu hal yang mungkin tak penting bagi generasi kita – apakah ia memiliki skin in-game atau tidak di game populer tersebut.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Norwegia datang dengan fakta yang cukup mengejutkan, bahwa eksistensi in-game item untuk anak-anak ternyata juga berpengaruh pada kehidupan sosla mereka terutama cara anak-anak lain yang memperlakukan mereka. Anak-anak yang tidak punya skin in-game untuk karakter mereka seringkali dicap miskin, sementara yang punya banyak skin in-game akan meraih popularitas tersendiri dan perhatian ekstra di lingkungan pergaulan. Bahwa anak-anak yang tidak punya skin in-game berujung sulit membaur dengan anak-anak yang lain. Bahkan skin ini disimpulkan sebagai “penanda” identitas yang penting bagi mereka.

Penelitian yang sama juga menyoroti minimnya peraturan bagi para publisher game yang memang menjadikan anak-anak ini sebagai target utama pasar dan bagaimana situasi ini juga membuat mereka rentan untuk menjadi korban aksi scam. Bagaimana dengan pengamatan Anda? Apakah hal yang sama juga terjadi di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*